Kebebasan Memilih adalah Anugerah Tuhan
Bobby Subianto, Mahasiswa Falsafah dan Agama, Fakultas Falsafah dan Peradaban, UniversitasParamadina, Jakarta.
Tuhan telah memberikan kita anugerah yang begitu besarnya, yaitu kebebasan memilih, yang tidak dimiliki makhluk Tuhan lainnya dalam hidup ini. Tuhan memberikan dua pilihan kepada manusia dalam menjalani hidup ini. Keduanya itu adalah jalan kebaikan dan jalan keburukan. Dalam hal ini, manusia diberi pilihan oleh Tuhan untuk menentukan hidup.
Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi, mengatakan bahwa kebebasan memilih ini hanya dimiliki oleh manusia. Karena manusia yang mau mengemban amanat yang telah ditawarkan Tuhan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Menurut Jalaluddin Rumi, tidaklah mungkin Tuhan memberi perintah dan larangan kepada manusia, kalau manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih tindakan-tindakannya dalam menjalani hidup.
Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa hewan sekalipun mengerti kalau manusia itu memiliki kebebasan memilih. Ambillah contoh seekor kuda, kalau kuda tersebut kita cambuk melewati batas normal, ada kemungkinan kuda tersebut akan marah karena kesakitan. Menariknya, ketika kuda itu marah, kepada apa atau siapa ia menumpahkan kemarahannya? Secara akal sehat, kuda akan marah kepada yang menyakitinya, dan yang menyakiti itu adalah cemeti, yang digunakan manusia untuk mencambuknya. Tetapi, dalam kenyataannya, kuda tidak marah pada cemeti atau cambuk, tetapi ia justru marah kepada manusia. Itu semua bagi Jalaluddin Rumi menunjukkan bahwa seekor kuda pun tahu bahwa cambuk tidak bisa dipersalahkan karena ia tidak bisa memilih. Kalau pun ada yang ia anggap bersalah, maka tidak lain manusia. Karena manusialah yang mampu memilih untuk menyiksa atau memperlakukan kuda dengan baik. Ini menunjukkan betapa seekor kuda pun tahu bahwa manusia memiliki kebebasan memilih.
Dalam hal ini, pergunakanlah anugerah Tuhan yang begitu agung dengan memilih jalan kebaikan. Apa pun yang kita pilih kebaikan maupun keburukan sudah barang tentu konsekuensi-konsekuensi apa yang kita pilih, mau tidak mau, harus kita pikul.
Tuhan tidak melepaskan begitu saja, tetapi Tuhan memberikan buku petunjuk untuk memilih. Di dalam buku petunjuk itu, Tuhan memberikan gambaran kebaikan dan keburukan. Kalau manusia berbuat kebaikan, maka akan mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan orang lain serta alam sekitarnya. Kalau manusia memilih keburukan, ia akan mendapatkan ketidak-tenangan hidup, membuat orang lain tidak nyaman, dan membuat alam sekitarnya tidak bersahabat. Inilah hukum kehidupan (law of life) yang telah Tuhan tentukan sebagai akibat kebebasan memilih yang diberikan kepada manusia.
Setiap agama di muka bumi ini selalu menganjurkan manusia untuk berbuat kebaikan, minimal untuk dirinya sendiri. Di dalam agama Islam, sangat ditekankan untuk berbuat kebaikan. Membaca al-Qur’an, dapat ditemukan adanya seruan untuk beriman kepada Allah, setelah ayat tersebut pasti akan kita temukan ayat sambungannya yang berbunyi “wa ‘amilû as-shâlihât” (berbuat kebaikan). Salah satu contoh di dalam surat al-`Ashr.
Dalam surat al-Áshr ini diterangkan bahwa manusia selama hidupnya akan terus dirundung kenestapaan, kerugian, tidak tenang dalam menjalani hidup, gelisah, dan sebagainya. Menanggapi kemenderitaan itu, Tuhan menjanjikan kebaikan pada diri manusia, bila ia menghidupi imannya dengan menjalankan pelbagai kebajikan, baik bagi dirinya maupun kehidupan umat manusia.
Beriman saja tidak cukup, tetapi perlu pembuktian yang konkrit, yaitu dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun di luar dirinya, termasuk alam sekitar. Keimanan yang tidak ditopang dengan amal baik, seperti pohon yang tidak berbuah. Amal soleh adalah buah dari keimanan kita.
Beberapa hari lagi, bulan yang indah dan memesona akan menyapa. Ia disapa dengan sebuatan Ramadhan. Bulan Ramadhan memang diperuntukkan bagi hamba-hamba Tuhan untuk melatih diri (tarbiyyat-u an-nafs) selama sebulan penuh dalam berbagai hal. Mulai kedisiplinan, mencari makna hidup, melatih diri dalam berinfaq dan sedekah, membantu sesama, dan perbuatan-perbuatan baik lainnya.
Mari kita sama-sama renungkan wahai saudaraku, mari kita mulai sedikit demi sedikit untuk berbuat kebaikan, kita aktifkan semua indra kita untuk berbuat kebaikan. Penglihatan kita, tuntunlah ia kepada kebaikan, pendengaran kita, bimbinglah ia untuk berbuat baik, penciuman kita diarahkan dalam kebaikan, indra kita mulai detik ini tuntunlah ia dalam kemaslahatan. Seluruh anggota tubuh kita, arahkan ia dalam kebaikan-kebaikan, minimal berbuat baik kepada diri kita sendiri, setelah itu baru menjalar kepada sesama bahkan pada alam semesta ini.
Mulai saat ini, larutkan semua yang kita miliki di dunia ini dalam nuansa irama melodi kebaikan. Nikmatilah kebaikan demi kebaikan, rasakan sentuhan lembut kebaikan itu pada diri kita. Biarkan kebaikan itu menyusup masuk dalam relung jiwa kita, jangan halangi dia, jangan cegah dia, jangan marahi dia, jangan tolak dia. Pasrahkan diri ini menerima kebaikan biarkan kebaikan menyelimuti jiwa ini.
Ketika jiwa kita telah menyatu dalam irama kebaikan, jiwa yang diliputi kebaikan akan memancarkan cahaya yang begitu indah mempesona. Cahaya kebaikan dalam diri kita memberikan nuansa keindahan dalam menghiasi dunia ini. Dunia akan terasa indah diliputi oleh aroma wewangian kebaikan yang kita tebarkan.
Dunia terasa nyaman ketika kebaikan meliputi seluruh aktivitas kita di dunia ini.
Sambutlah kebaikan itu dengan sambutan yang hangat penuh mesra. Semailah kebaikan demi kebaikan, berikan peluang kepada anggota tubuh dan apa yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Mudah-mudahan kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat bisa bermanfaat untuk kita dan makhluk hidup di dunia.
